Jeff Ament, the soulfull bassist
August 29th, 2008 by alexkuple
Along with guitarist Stone Gossard, bassist Jeff Ament was a member of
three of Seattle’s most celebrated and admired bands of recent times –
Green River, Mother Love Bone, and Pearl Jam. Born on March 10, 1963,
in Big Sandy, MT, Ament took up bass as a teenager, playing along to
Clash and Police records, as well as learning a thing or two from
classic rockers (Rush, Aerosmith, etc.). After relocating to Seattle
hoping to fulfill his dreams of rock stardom, Ament hooked up with
influential garage rockers Green River (which included singer Mark Arm,
guitarist Steve Turner, drummer Alex Vincent, and Gossard). Three EPs
followed — 1985’s Come on Down, 1986’s Dry as a Bone, and 1988’s Rehab
Doll, which saw the quintet provide the blueprint for other subsequent
Seattle bands that would follow in their wake — garage rock à la the
Stooges clashing with Sabbath riff rock. Even with greater success on
the horizon, Green River called it a day the same year as their final
release — Arm and Turner would form Mudhoney, while Ament and Gossard
began jamming with local flamboyant glam rocker Andrew Wood.
The
resulting band, Mother Love Bone (which also included drummer Greg
Gilmore and second guitarist Bruce Fairweather), combined Green River’s
raw punk with Wood’s bombastic arena rock, resulting in a can’t-miss
combo that seemed destined for the top of the charts. Shortly after the
quintet signed on with Polygram in 1989, MLB issued their first
recording, the six-track EP Shine, with a full-length debut written and
recorded by the time the holiday season rolled around, titled Apple.
But tragedy struck a cruel blow to the band, when Wood died from a
heroin overdose in March of 1990. Apple would eventually be issued
later in the year, but the band couldn’t continue without their
charismatic singer, and Mother Love Bone folded. Yet again, it was back
to the drawing board for Ament and Gossard, who decided to put together
a new band almost immediately afterward.
Recruiting San Diego
native Eddie Vedder on vocals and lead guitarist Mike McCready (several
different drummers would man the kit), Ament and Gossard’s latest
creation was more musically and visually straight-ahead than their
previous band, and was dubbed Pearl Jam. But before Pearl Jam entered
the studio, Ament, Gossard, and McCready recorded a tribute album for
Wood with Soundgarden singer Chris Cornell and drummer Matt Cameron,
entitled Temple of the Dog. The side project’s self-titled debut was
issued in 1991, just a short while before Pearl Jam’s debut record was
issued. By the summer of 1992, Pearl Jam had achieved enormous
commercial success, eventually becoming one of the biggest rock bands
of the ’90s on the strength of such releases as 1993’s Vs., 1994’s
Vitalogy, 1996’s No Code, and 1998’s Yield, plus their first release of
the new millennium, 2000’s Binaural. In addition to Pearl Jam, Ament
found time for the side project Three Fish, issuing 1996’s self-titled
debut and 1999’s The Quiet Table, as well as creating a graphic design
company with his brother. ~ Greg Prato, All Music Guide
http://www.answers.com/topic/jeff-ament
John Coltrane, Master Of Jazz
August 29th, 2008 by alexkupleSaxophonist / Bandleader / Jazz Musician

American jazz great John Coltrane emerged in the 1950s, playing tenor
and soprano sax with Dizzy Gillespie, Miles Davis and Thelonious Monk.
A leader of "hard bop", in the 1960s he led his own groups and changed
the face of jazz with experimentation and improvisation, his later
recordings reflecting his belief that music was a form of spiritual
expression. Sometimes called simply ‘Trane, his recordings include
Giant Steps (1959), My Favorite Things (1960), Olé (1961) and A Love
Supreme (1964). In his later recordings he collaborated on avante-garde
music with his wife, Alice Coltrane (b. Alice McLeod, 1937-2007), who
had a career in her own right.
Extra credit: The band
sometimes called Coltrane’s "classic quartet" of the early 1960s
included McCoy Tyner (piano), Elvin Jones (drums) and Jimmy Garrison
(bass).
http://who2.com/ask/johncoltrane.html
Some Key Recordings as Leader:
Blue Train - Blue Note CDP 746095 CD, 1957
Soultrane - Original Jazz Classics OJC 021 CD, 1958
Giant Steps - Atlantic A2 1311 CD, 1959
My Favorite Things - Atlantic 1361 CD, 1960
The Complete Africa/Brass - Impulse! IMPD 2-168 CD, 1961
Crescent - Impulse! MCAD 5889 CD, 1964
A Love Supreme - Impulse! GRD 155 CD, 1964
The Major Works of John Coltrane - Impulse! GRD 21132 CD, 1965
Meditations - Impulse! MCAD 39139 CD, 1965
Interstellar Space - Impulse! GRD 110 CD, 1967
Key Partners:
McCoy Tyner
Elvin Jones
Jimmy Garrison
Eric Dolphy
Pharoah Sanders
Rashied Ali
Alice Coltrane
Some Other Key Recordings:
With Miles Davis
‘Round About Midnight - Columbia CK 40610 CD, 1955-56
Milestones - Columbia CK 40837 CD, 1958
Kind of Blue - Columbia CK 40579 CD, 1959
With Thelonious Monk
Thelonious Monk With John Coltrane - Original Jazz Classics OJC 039 CD, 1957
Ulang Tahun Pertama Komunitas Jazz Chic’s
June 2nd, 2008 by alexkupleUlang Tahun Pertama Komunitas Jazz Chic’s 22 Mei 2008
Tanpa terasa Komunitas Jazz Chic’s (KJC) yang
diprakarsai oleh beberapa instruktur Chic’s Musik telah berusia satu
tahun. Berangkat dari semangat memasyarakatkan musik Jazz, acara yang
rutin digelar sebulan sekali di pelataran parkir pinggir jalan ternyata
sampai sejauh ini mampu bertahan dan terus berkembang baik dari segi
jumlah penikmat musik jazz yang hadir maupun dari jumlah pemusik yang
bersedia tampil. Beberapa musisi terkenal sempat hadir dan
berpartisipasi pada gathering-gathering rutin bulanan, diantaranya
Baim, Harry Toledo, Iwang Noorsaid, Iwan Miradz, Krishna Siregar, dan
lainnya. Kali ini pada kesempatan acara ulang tahun pertama, ada
sedikit perbedaan yaitu dalam hal tempat acara. Jika biasanya setiap
bulan pada hari Kamis minggu keempat gathering KJC diadakan di
pelataran parkir Chic’s Musik, maka kali ini gathering sekaligus ulang
tahun pertama KJC mengambil tempat di auditorium Chic’s Musik. Langkah
ini ditempuh untuk mengantisipasi jumlah penikmat musik Jazz yang akan
datang. Jumlah pengisi acara yang terdaftar akan tampil saja sekitar 15
sampai 20. Karena itu acara gathering ulang tahun ini dimulai sekitar
pukul 17.00 WIB mengingat banyaknya pemusik Jazz yang akan
berpartisipasi.
Agak terlambat dari jadwal yang sudah disusun
karena masalah lighting untuk shooting video yang belum siap, acara
dimulai sekitar pukul 17.20. Sedikit kata-kata pembuka dari Tanthie
sang MC dilanjutkan dengan sambutan singkat oleh Erick selaku
koordinator KJC dan pak Jemmy Suhadi selaku owner Chic’s Musik.
Dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai simbolisasi dan syukuran
ulang tahun pertama KJC.
Penampilan pembuka adalah jam session oleh
beberapa instruktur Chic’s Musik, yaitu Alex Kuple (Bass), Ossa (Drum),
Imam Fathur (Gitar), Acil (Perkusi) dan Sonny (Piano). Jam session awal
ini membawakan lagu Happy Birthday yang diaransemen Latin Jazz.
Setelah break Maghrib, yang kebagian tampil
pertama adalah Imam Fathur (Gitar) dibantu oleh Ossa (Drum) dan Oktav
(Bass). Seperti biasanya, Imam membawakan beberapa nomor Fusion Jazz
dari Lee Ritenour dan karya sendiri. Selanjutnya tampil grup People 2
yang digawangi oleh Yansen (Piano) dan Roy (Vokal). Karena pemain bass
dan drum mereka tidak bisa hadir, People 2 dibantu oleh Alex Kuple
(bass) dan Herman (drum) dalam penampilan kali ini. People 2 Membawakan
3 buah lagu standard jazz yaitu All Of Me, Girl From Ipanema dan St.
Thomas. Dalam gelaran Ulang Tahun pertama KJC kali ini yang bertindak
selaku MC adalah Yudhi Dado (drum), Erick (gitar) dan Bhayu (piano).
Peppy Probo & Friends tampil setelah People 2
dengan memainkan lagu-lagu Days Of Wind and Roses, Let’s Fall in Love
dan Too Close For Comfort. Grup ini beranggotakan Peppy (vokal), Sonny
(piano), Dede (gitar), Eja (drum) dan Taufan (bass upright elektrik).
Penampilan Peppy cukup memukau dengan ciri khas vokalnya yang
melengking dengan range vokal yang luas, serta improvisasi yang cukup
matang. Melanjutkan penampilan Peppy Probo & Friends adalah grup
Notturno yang beranggotakan Joshua (bass upright), Masmo (piano) dan
Hendra (drum). Meski bertiga, penampilan mereka terasa penuh dan rapi
dalam memainkan corak musik light standard jazz. 3 buah lagu yang
mereka mainkan adalah He Told Me About Bean (lagu orisinil Notturno),
Stolen Moments dan sebuah lagu dari Thelonious Monk.
Sebagai penampil kelima adalah Yose, Ade &
Friends, memainkan lagu standard Giant Steps dan Take 5 serta Cold Dark
Night yang berirama Funk Jazz. Grup ini terdiri dari Yose (vokal dan
perkusi), Ade (piano), Ricky (bass), Erick (gitar) dan Hendra Jr.
(drum). Ade yang masih berusia belasan tahun dan menderita tunanetra
sudah sering tampil dalam acara reguler bulanan KJC dan sejak kecil
sudah terbiasa ber-jam session dengan para musisi jazz ternama di
Amerika Serikat. Kekurangan fisiknya ternyata tidak menghalangi
kecermelangan bakat musiknya. Ade tampil memukau dengan improvisasi
matang yang dapat kita bandingkan dengan para pianis jazz senior. Grup
berikutnya yang tampil adalah One + 2, yang terdiri dari trio vokal
Andrea, Gustam dan Pay, serta dibantu oleh Dimas (gitar), Herman
(drum), Aji (piano), dan Joko (bass). Mereka tampil kompak dengan
aransemen vokal trio yang memikat, membawakan 2 buah lagu yaitu Route
66 (blues jazz) dan L.O.V.E (diaransemen Fusion).
Setelah sesi lagu-lagu standar jazz seperti swing
dan be bop, 2 penampil berikut ini sedikit berbeda dengan membawakan
jenis musik Fusion yang cukup kompleks. Penampil ketujuh adalah grup
Heaven On Earth yang beranggotakan Bhayu (piano dan keyboard), Ossa
(drum) dan Franky (bass). Mereka membawakan nomor-nomor karya sendiri
yang bercorak Fusion Jazz, yaitu Camel Rider dan Drum Overture. Dengan
ciri khas musik Fusion yang njelimet dan penuh dengan tutti, mereka
tampil cukup prima. Heaven On Earth telah merilis satu album dan sering
tampil di berbagai event jazz berskala nasional. Melanjutkan Heaven On
Earth adalah bintang tamu yang sangat ditunggu pada gelaran Ulang Tahun
KJC, yaitu Iwang Noorsaid. Iwang yang memainkan keyboard dengan
sampling sound dari notebook nya tampil dibantu oleh Ossa dan Franky,
membawakan komposisi Iwang sendiri bercorak progresif fusion jazz.
Terlihat kematangan seorang Iwang yang sudah cukup lama berkiprah di
dunia musik khususnya jazz, dengan improvisasi dan kelincahan
jari-jarinya yang sangat memukau.
Setelah 2 penampil yang membawakan corak Jazz
Fusion, penampilan kesembilan membawa kita kembali ke era jazz swing
dan ballad, yaitu Beben & Friends. Beben (vokal dan gitar) yang
merupakan pelopor berdirinya Komunitas Jazz Kemayoran tampil bersama
Nanin (piano), Martin (bass), Hendra Jr. (drum), dan Carolina (vokal).
Mereka memainkan 5 repertoire yaitu Blue Monk, Stompin’ At The Savoy,
Night & Day, One Note Samba dan Lullaby Of Birdland. Dengan
komposisi dan improvisasi yang manis ditambah ciri khas vokal serak
dari Carolina, Beben & Friends mampu mendinginkan suasana yang
terlanjur panas oleh penampilan fusion sebelumnya.
Suasana panas yang berbeda kembali dimunculkan
oleh penampilan Zarro ‘n de Vega yang mengusung corak musik latin yang
menghentak. Zarro (vokal dan gitar akustik nylon), Ricky (bass), Revi A
(drum), Wuijoko (perkusi), Iman BS (harmonika) dan Roberto (piano)
dapat mengangkat suasana dengan irama latin yang energik. Mereka
membawakan 3 repertoire latin yaitu Incompatibilidade, Tolare dan
Navegando Sozinho. Penampilan kesebelas kembali mengangkat aura fusion
yaitu Afy yang beranggotakan Aji (gitar), Franky (bass) dan Yudhi Dado
(drum). Mereka memainkan Giant Steps yang diaransemen progresif serta
Blues 3/8 yang rancak. Sayang penampilan mereka sedikit terganggu oleh
kabel gitar Aji yang bermasalah, kadang nyala kadang mati. Namun
overall mereka berani membawakan nomor jazz yang sedikit berbeda.
Melanjutkan suasana fusion adalah penampilan berikutnya dari Tiga
Mawarnih yang beranggotakan Franky (bass), Mudrika (gitar) dan Riza M
(drum). Mereka sudah merilis sebuah album indie label dan sering tampil
di berbagai ajang jazz nasional. Tiga Mawarnih memainkan 3 buah lagu
komposisi mereka sendiri. Sedikit masalah juga menimpa penampilan
mereka karena komputer yang mereka gunakan untuk menjalankan sequencer
mendadak ngadat. Lagu kedua terpaksa mereka ganti karena masalah
tersebut. Demikian pula lagu ketiga yang mereka mainkan terpaksa
dihentikan oleh Franky karena komputer masih bermasalah. Namun demikian
tidak mengurangi respek audiens terhadap permainan mereka yang kaya
olah skill dan teknik prima.
Penampilan ketiga belas oleh Agus Takari &
Friends mengembalikan lagi era klasik jazz. Agus Takari (gitar), Peppy
(vokal), Herman (drum), Martin (bass) dan Ade (piano) sebenarnya
terbentuk dadakan pada saat itu juga karena tim yang direncanakan
sebelumnya oleh Agus tidak bisa hadir. Namun jam session dadakan ini
cukup mampu menghadirkan nuansa jazz yang kental dari permainan gitar
Agus Takari yang sebagai seorang guru telah menghasilkan murid-murid
jazzer yang handal juga. 2 buah nomor yang mereka bawakan adalah Take
The A Train dan Stella By Starlight. Berikutnya yang tampil adalah New
Kids On The Bob (NKOTB) yang beranggotakan Rio (gitar), Reza (drum) dan
Taufan (bass upright elektrik). Meski rata-rata masih berusia muda,
mereka mampu membawakan 3 buah reperoire standard jazz dengan apik. 3
nomor yang mereka bawakan adalah Sometime Ago, Four On Six dan Chelsea
Bridge. Khusus pada lagu terakhir, permainan gitar Rio terdengar sangat
indah dan matang memainkan nomor ballad tersebut. Jika kita tidak
melihat siapa yang bermain pasti kita akan menebak bahwa yang memainkan
gitar pada lagu tersebut adalah jazzer yang sudah tua.
David Klein, seorang sound engineer ternama di
Indonesia, menyempatkan diri hadir dan ber-jam session di atas panggung
bersama NKOTB. Membawakan C Jam Blues dan Misty featuring Peppy Probo,
David Klein menunjukkan keahlian lainnya yang selama ini terpendam,
yaitu memainkan piano. Sentuhan jazz pada permainannya sangat kental,
meski sudah lama tidak bermain piano di panggung.
Acara tampaknya harus segera dihadiri karena waktu
telah menunjukkan sekitar pukul 00.30. Penampilan penutup (keenam
belas) adalah tuan rumah, yaitu grup Bicara yang beranggotakan Alex
Kuple (bass), Erick (gitar), Sonny (piano) dan Bobby (drum). Bicara
memainkan 2 buah nomor standard jazz yaitu Waltz New dan Confirmation.
Bicara juga sering tampil di berbagai event jazz, terakhir mereka
tampil di event Jazz Blunt di Tennis Indoor Senayan sebagai opening act
dari konser James Blunt, dengan mengaransemen beberapa nomor James
Blunt menjadi jazz.
Setelah Bicara, gelaran Ulang Tahun Pertama KJC
diakhiri oleh jam session seperti layaknya event-event jazz berbasis
komunitas. Jam session pertama yang terdiri dari Carolina & Peppy
(vokal), Bobby (drum), Dede (gitar), Martin (bass), Sonny (piano) dan
Yose (perkusi) memainkan nomor Route 66. Dilanjutkan oleh jam session
kedua yang terdiri dari Alex Kuple (bass), Erick (gitar), Beben
(vokal), Hendra Jr. (drum), dan Yose (perkusi) membawakan nomor Just
Friends.
Sebagai sebuah komunitas yang baru seumur jagung
alias setahun, ternyata Komunitas Jazz Chic’s telah sedemikian
berkembang dan mampu menarik minat baik penikmat maupun musisi jazz
untuk berpartisipasi dalam mengembangkan musik Jazz. Salut dan selamat
buat KJC, serta terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang
hadir pada acara Ulang Tahun Pertama KJC. Salam Jazz. (Alex Kuple 2008).
Review Gathering ke-9 Komunitas Jazz Chic’s 24 April 2008
April 29th, 2008 by alexkupleReview Gathering ke-9 Komunitas Jazz Chic’s 24 April 2008
April 28, 2008
Tanpa
terasa Komunitas Jazz Chic’s (KJC) sudah berusia hampir genap setahun.
Tepatnya bulan Mei depan pada tanggal 22 Mei 2008, KJC akan merayakan
ulang tahun pertamanya dengan gathering yang dirancang akan lebih
meriah dari gathering rutin bulanan biasanya. Dan mulai gathering ke-9
tanggal 24 April 2008 yang baru saja lewat, aroma perayaan ulang tahun
sudah terasa dengan banyaknya penampil dan penonton yang hadir di
pelataran parkir Chic’s Musik Rawamangun Jakarta Timur, tempat acara
gathering KJC biasa diadakan. Boleh dibilang gathering kali mencatatkan
prestasi baik dalam hal jumlah penonton maupun penampil.
Mengambil tema “Swing Era”, gathering dimulai sekitar pukul 20.00 WIB
dengan penampilan jam session dari para instruktur Chic’s Musik yaitu
Erick (gitar), Bhayu (piano), Ossa (drum) dan Joko (bass) membawakan
lagu standard Solar. Selanjutnya, gathering dimeriahkan dengan
kehadiran Beben (pelopor Komunitas Jazz Kemayoran) yang memberikan
workshop tentang Jazz khususnya pada era Swing, dilanjutkan dengan
talkshow bersama Erick (yang termasuk salah seorang pelopor KJC).
Kemudian Beben tampil bernyanyi dan bermain gitar bersama Ossa, Joko
dan Ade (piano) membawakan 2 buah lagu Swing Just Friends dan Now’s The
Time. Masih ingatkan dengan Ade? Dia masih berusia belasan tahun dan
memiliki bakat luar biasa, dan sangat istimewa karena dia memiliki
gangguan penglihatan namun mampu memainkan banyak repertoire jazz
dengan fasih.
Penampil berikut adalah langganan dalam setiap gathering KJC yaitu
kelompok Heaven On Earth yang digawangi oleh trio Bhayu, Ossa dan
Franky (bass). Mereka sedikit menyimpang dari era Swing dengan
membawakan nomor-nomor karya sendiri yang kental bernuansa Fusion. Kali
ini KJC kedatangan tamu yang istimewa yaitu Iwang Noorsaid, seorang
pianis/kibordis yang sangat dikenal di kalangan para jazzer karena
memiliki bakat dan kemampuan spesial semenjak dia kecil bersama band
The Kids. Iwang langsung didaulat naik ke panggung untuk ber-jam
session bersama Alex Kuple (bass), Ossa, Erick, Jose (perkusi) dan
Wisnu (saxophone). Jam session ini membawakan irama jazz yang sedikit
funk dengan memainkan lagu-lagu Feel Like Making Love dan Cantaloupe
Island. Meski baru didaulat di panggung namun disinilah letak kekuatan
sebenarnya dari musik Jazz, yaitu menyatukan hati dan jiwa dalam
bermain bersama meski secara mendadak saling dipertemukan tanpa latihan
sebelumnya.
Berikutnya yang tampil adalah Quintet Erick, Joko, Herman (drum), Ade
dan Wisnu yang mengembalikan nuansa Swing dengan membawakan lagu-lagu
In A Sentimental Mood dan Take The A Train. Kemudian dilanjutkan dengan
penampilan manis berirama swing dan latin dari Tania & Friends,
terdiri dari Tania (vokal), Ricky (bass), Hendra (drum), Totong
(gitaris Canizzaro), Jose (perkusi), Ade, dan Acil (perkusi). Mereka
membawakan 3 buah lagu Lullaby Of Birdland, Misty dan Close To You.
Gathering
kali ini semakin meriah dengan kehadiran Krishna Siregar, seorang
pianis jazz yang juga cukup dikenal di kalangan jazzer dan tergabung
bersama Iwang Noorsaid dalam kelompok Storytellers yang sering mengisi
perhelatan jazz nasional seperti Jak Jazz dan Java Jazz. Krishna
didaulat ber-jam session bersama Ricky, Hendra, Jose (kali ini
bernyanyi), dan Dodi (gitar). Mereka membawakan lagu swing jazz blues
Billie’s Bounce.
Karena waktu sudah mendekati tengah malam, gathering terpaksa harus
segera diakhiri dengan jam session dari Krishna, Iwang, Franky, dan
Ossa yang memainkan lagu Donna Lee. Krishna dan Iwang berbagi 1 piano
dan saling bergantian ber-solo ria dengan kemampuan mereka yang
istimewa. Sangat tepat untuk menjadi penampil pamungkas dalam gathering
KJC kali ini, meninggalkan rasa puas yang dalam bagi para penonton
serta rasa penasaran menunggu kemeriahan gathering ulang tahun pertama
KJC bulan Mei 2008. Salam Jazz! (Alex Kuple).
Super Grunge at Classic Rock Bandung 27 Maret 2008
April 6th, 2008 by alexkupleSuper Grunge
(Show at Classic Rock Cafe Bandung, 27 March 2008)

Super Grunge merupakan kolaborasi dari para musisi yang pada era tahun 1990-an mengawali karir dengan memainkan musik aliran grunge dan alternative rock. Terdiri dari Ipang (Vokalis dari Plastik/BIP), Magi (Drummer dari /rif), Edwin (Gitaris dari Cokelat) dan Alex Kuple (Bassist dari ALV). Kesaman akar musik inilah yang mendasari terbentuknya proyek Super Grunge, yang didukung oleh pihak Classic Rock Bandung sebagai penyelenggara acara Alternative Nation pada tanggal 27 Maret 2008. Dengan persiapan yang boleh dikatakan minim, hanya mengandalkan ingatan pada masa lalu pernah membawakan jenis musik grunge ini - seperti dikatakan oleh Ipang dan Magi "Udah kira-kira 15 tahun yang lalu nih kita bawain lagu-lagu grunge!" - namun kecintaan pada jenis musik inilah yang membuat proyek Super Grunge menjadi penuh semangat membara. Proyek ini seakan membawa spirit pencerahan baru pada masing-masing musisi, memberi nafas segar saat kembali ke band mereka masing-masing, itulah yang ditekankan oleh Edwin. Peran dari Joshua (manajer Funkop dan staff promosi majalah Rolling Stone) dan Trisno (Bassist dari Pas Band) sangat besar dalam membidani proyek Super Grunge ini. Melalui mereka jugalah proyek ini bisa berjalan dengan sukses.
Repertoire yang dibawakan oleh Super Grunge pada show 27 Maret 2008 :
- Plush (Stone Temple Pilots)
- Interstate Love Song (Stone Temple Pilots)
- Alive (Pearl Jam)
- I Alone (Live)
- Would (Alice In Chains) dinyanyikan oleh Che dari Cupumanik
- Come As You Are (Nirvana) dinyanyikan oleh seorang vokalis dari komunitas grunge Bandung
- Spoonman (Soundgarden)
- I Don’t Know Anything (Mad Season)
- Jeremy (Pearl Jam)
- Black (Pearl Jam)
Meski diadakan pada hari kerja, yaitu Kamis malam Jumat, namun jumlah kursi di Classic Rock terisi penuh, ditambah beberapa puluh penonton yang berdiri. Penonton yang kebanyakan berasal dari komunitas grunge Bandung terlihat antusias sambil bernostalgia ke era musik rock yang bagus dan bermutu tahun 1990-an. Che - vokalis Cupumanik - menyempatkan diri hadir dan ber-jamming ria di panggung, membuat atmosfir grunge kian terasa kental. Demikian juga Trisno - bassist Pas Band - yang memaksakan diri untuk hadir dan menikmati suasana grunge kembali, meski baru saja kembali dari konser di luar kota bersama Pas.
Musik grunge tampaknya tidak akan pernah mati, setidaknya di hati para penggemar sejati grunge. Meski dulu pernah mencapai puncak kejayaan pada era tahun 1990-an dengan The Big Four (Pearl Jam, Nirvana, Soundgarden dan Alice In Chains), saat ini boleh dikatakan menjadi semacam gerakan underground sekaligus gerakan moral dengan menyisakan motor utama Pearl Jam yang tetap eksis sampai detik ini. Proyek ini juga berusaha untuk mengembalikan semangat bermusik yang murni, bila kita melihat keadaan musik Indonesia saat ini yang hampir seratus persen berorientasi pada lagu cengeng. Seperti pernah menjadi bahan pembicaraan hati ke hati (curhat) antara Edwin dan Alex, bahwa anak band 90-an sekarang sedih melihat band-band yang ada saat ini karena lebih menomorsatukan selera pasar dibandingkan mutu dan kreativitas berkarya. Semoga proyek ini bisa terus berjalan dan berkembang untuk memberikan pencerahan pada penikmat musik Indonesia saat ini yang sudah terlanjur terbius dengan musik-musik pop cengeng. Kembalikan semangat musik sejati!
(Alex Kuple).
Puisi : Balita Di Jalanan
March 2nd, 2008 by alexkupleBalita di Jalanan
Siapakah yang akan menjaganya,
menemani hari-harinya,
bermain, bercanda, belajar hidup, merasa,
membantunya, menghibur di kala duka,
memberinya makan, minum, susu, kehangatan,
menjaganya, merawatnya, melindunginya,
membuainya, menceritakan dongeng sebelum tidur?
Saat melihatnya, masihkah kita merasa hidup ini adil?
Katakan padaku keadilan seperti apa untuknya?
Di jalanan ia terpaksa melalui hidup yang nyata
Sangat nyata sampai air mataku tak mampu keluar,
menyisakan kesesakan yang sangat di dada
Kebahagiaan coba diraihnya lewat dunia yang tak ramah
Kecrekan dari tutup botol atau galon bekas air mineral menjadi alat mencari makan
Bertahan untuk makan sekedarnya mengais rejeki dari uluran tangan orang
Sekolah di jalanan dengan seragam kusam
Apa pelajaran yang akan didapatnya dari kesombongan dunia?
Kawan, aku tak mampu melanjutkan kata-kata,
karena kata-kata tak pernah mampu menceritakan betapa perih hati merasa.
(Alex Kuple, Jakarta 3 Maret 2008)
Puisi : Diam Tak Selamanya Emas
March 2nd, 2008 by alexkupleDiam Tak Selamanya Emas
Saat diam tak tertahan
Kata-kata meluncur menghunjam deras
Tegas tuntas terkadang beringas
Siapa yang sanggup membungkam pikiran?
Ketika nurani telah dicampakkan dalam kubangan,
dan harga diri ditindas terampas tak berbekas
Janji tinggal bualan dan dongeng mimpi buruk
Lantangkan suaramu sobat,
karena diam tak selamanya emas.
(Alex Kuple, Jakarta 20 Februari 2008)
The Army Ants Second Show
March 2nd, 2008 by alexkupleKONSER KEDUA THE ARMY ANTS
Tanggal 22 Februari 2008, bertempat di Vicky Sianipar Music Center di Jalan Minangkabau Manggarai Jakarta Selatan, The Army Ants tampil dalam acara launching Qitix sebagai penyedia jasa content digital seperti ring back tone, wallpaper, dan sebagainya. Berbeda dengan penyedia content digital lain, Qitix lebih mengutamakan karya-karya band-band indie ataupun perseorangan dengan tidak mensyaratkan sudah sign kontrak dengan perusahaan rekaman sebelumnya. Jadi meski The Army Ants belum mendokumentasikan karya-karya ciptaan sendiri dalam bentuk fisik album CD atau kaset, lagu-lagu The Army Ants bisa di download sebagai ring back tone, true tone, wallpaper dan bentuk digital lain melalui Qitix.
Lebih lengkap bisa ikuti link berikut:
http://www.qitix.com/web/artis_detail.php?aid=9
Download The Army Ants Ring Back Tone at
http://www.qitix.com/web/download.php?aid=9
or at
http://www.freekoms.com/en/general/ringlist.jsp?keyword=the+army+ants
Konser kedua The Army Ants dimulai sekitar pukul 8 malam. Saat tampil, jumlah penonton terbilang minim, karena mungkin konser hari itu berbarengan dengan konser Helloween di Senayan. Namun The Army Ants yang kali ini selain Alex Kuple (Bass) dan Joshua (Vokal) dibantu juga oleh Mita (Drum), Yugo (Keyboard), dan Adit (Gitar) tetap menyajikan penampilan yang maksimal. Diawali dengan lagu Whatever Song yang medium tapi grungoholic pada bagian interlude, penonton tampaknya masih sedikit mikir dengan jenis musik yang dibawakan. Perpaduan antara Grunge dan Pop. Lagu berikutnya adalah We’re Not Okay yang sedikit lebih menghentak tetap dengan nuansa grunge dan pop dibalut sentuhan funk pada beatnya. Lagu ini cukup memanaskan suasana. Lagu ketiga Cover My Day yang diawali dengan intro piano ditimpali riff gitar. Lagu ini tergolong lembut dan menjadi favorit banyak pengunjung website myspace The Army Ants (www.myspace.com/thearmyants). Joshua berhasil membius penonton dengan keindahan melodi dan lirik Cover My Day ditimpali dengan vokal sedikit menggeram khas grunge. Beberapa penonton mulai merapat ke depan panggung sekedar untuk melihat atau mendengar lebih jelas, juga untuk mengabadikan dengan kamera foto penampilan The Army Ants. Lagu keempat Forever Games dengan intro gitar yang mengingatkan sekali suasana musik grunge alternatif era 90-an namun dibalut dengan orkestrasi string di tengah lagu, ditambah suasana grungy yang berbau jazz pada bagian interlude. Sebagai lagu terakhir, The Army Ants membawakan Dirty Rain yang beraroma riff gitar british rock namun dengan suasana grunge serta sedikit sentuhan jazzy juga pada interlude. Secara keseluruhan penampilan The Army Ants kali ini bisa dikatakan solid dan maksimal. Emosi dan dinamika lagu berhasil dibawakan dengan cukup baik sehingga mampu memancing respons positif dari penonton. Terimakasih banyak buat teman-teman yang menyempatkan hadir dan menyaksikan langsung penampilan live kedua The Army Ants, salam grunge! (Alex Kuple).
Kalau Nggak Banjir Bukan Jakarta Namanya
February 4th, 2008 by alexkuple
Banjir sudah bukan fenomena alam yang aneh untuk kota jakarta. Kalau dulu siklus banjir besar adalah 5 tahunan, sekarang tampaknya dipercepat menjadi 1 tahunan. Salut buat gubernur baru sesuai dengan slogan kampanyenya "Serahkan pada yang ahlinya", karena ahli juga mempercepat siklus banjir. (Applause….).
Jumat pagi 1 Februari pertanda a bad day sudah terasa ketika KRL AC langganan tidak beroperasi karena rusak akibat hujan lebat semalamnya. Alhasil pindah moda angkutan dengan bis biasa dengan keadaan jalanan yang macet ruarr biaasaaa. Sampai dekat kantor di kawasan industri pulogadung jalan tergenang setinggi lutut sampai sang tukang ojek menyerah nggak mau lanjut, jadi… ya balik lagi ke rumah. Dalam perjalanan pulang banjir sudah mulai meluap dimana-mana. Sore jam 15.30 terpaksa harus pergi lagi ke daerah Kelapa Gading karena ada job manggung bersama Baim. Dari rumah ke arah jalan Sudirman jalan sangatlah lancar tanpa macet dan banjir. Yang repot dari Sudirman ke arah Kelapa Gading tidak ada angkutan umum yang beroperasi lagi. Terpaksa berpindah-pindah angkutan dengan rute agak memutar. Ke arah Senen sekitar pukul 16.00 terjebak banjir setinggi pinggang orang dewasa. Dari Senen lanjut ke arah Cempaka Putih, terpaksa turun sebelum ITC Cempaka Mas karena air sudah menggenang dimana-mana di daerah Cempaka Putih. ITC Cempaka Mas sekitar pukul 17.00 dikepung banjir di sekitarnya, dari setinggi lutut sampai sedada orang dewasa.
Kawasan itu sudah seperti taman wisata karena orang-orang pada terjebak dan turun dari kendaraan masing-masing pasrah melihat keadaan. Tukang-tukang makanan tersebar menjajakan dagangannya. Dari perempatan Coca Cola itu mau menyeberang ke arah Kelapa Gading tapi akhirnya mengurungkan niat karena di kejauhan terlihat orang-orang menyeberang air sudah setinggi dada. Alhamdulillah selepas magrib Bodonk dan Kikoy (crew Baim) menjemput dengan motor melewati jalan bypass ke arah mal artha gading. Meski banjir namun motor masih bisa menerobos kepungan air. Dilanjutkan berjalan menerjang banjir di perkampungan pinggir jalan bypass, sampai juga di daerah kelapa gading, kemudian naik motor sampai Balai Sudirman. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 padahal jadwal Baim tampil pukul 20.30 WIB. Ternyata Baim, Acha (Drummer) dan Eko (Asisten Baim) terhambat banjir sehingga harus naik ojek motor juga menerjang banjir sepinggang sembari menggendong gitar dan bass supaya sampai di daerah Kelapa Gading. Acara Ulang Tahun Yayasan Don Bosco pun mengalami banyak perubahan, Baim jadi penampil terakhir sekitar pukul 21.30. Acara berlangsung tetap meriah meski tamu yang hadir kurang dari separo. Sungguh show yang penuh perjuangan. Jakarta oh Jakarta, kapan bebas banjir? Dalam mimpi kali ya, meski dengan Gubernur yang lebih ahli dari sang ahli.



